bab 2 : The beginning, Jakarta 15 Mei 1991
Lahir dari keluarga yg kental dengan culture batak, ayah bermarga Saragih dan ibu boru Siregar. Pertemuan mereka berlangsung di kota jakarta yg kala itu mereka sedang merantau di ibukota, ayahku bekerja di bimantara group, pada saat itu di bawah naungan keturunan mantan presiden Republik Indonesia ke 2 bapak Seoharto. Saya juga kurang tau jelas siapa pemimpin perusahaannya karena emang di ceritakan oleh ayah saya. Sedang ibu saya sudah bekerja di PT. Garuda Indonesia. Mereka bertemu karena sama bekerja di dunia pariwisata tour and travel. Dimana mereka saya bekerja di dunia tersebut dalam bidang perjalanan wisata khususnya tiket penerbangan pesawat. Mungkin sebab itu juga kenapa saya sangat suka dengan dunia penerbangan dan dunia pariwisata. Setelah beberapa lama menjalin hubungan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah di tahun 1990. Mereka menikah di medan dmana tempat rumah orang tua dari mama memang berasal dari kota Medan. Sedang ayahku kampung halamannya di kota pematangsiantar. Singkat cerita 1 tahun kemudian lahir lah aku ke dunia. Berselang 2 tahun setelahnya lahirlah adikku bella ke dunia. Pada tahun 1993. Hingga pada tahun 1995 kalau tidak salah nenekku dari ibu mengalami insiden hingga sampai terjatuh sakit di medan. Karena ibu ku khawatir dan memang sudah gk betah juga hidup di jakarta yg merupakan pusat dari ibukota negera Indonesia, dan merupakan kota tersibuk di seluruh indonesia. Akhirnya ibu memutuskan untuk mengajukan perpindahan kerja ke kota Medan. Pindah tugas klo istilahnya. Agar bisa tetap berkerja di perusahaan tersebut dan bisa dekat dengan nenek. Kala itu aku, bella dan ibuku pindah langsung ke Medan sementara ayahku harus tetap stay di jakarta karena masih harus bekerja, di perusahaan tersebut di karenakan beberapa alasan, hingga sampai 3 tahun kemudian kalau tidak salah baru bisa menyusul kami balek ke Medan. Akhirnya dengan segala persiapan dan kekuatan ayahku pun pindah ke Medan dengan berat hati karena memang pemimpin perusahaan tempat ayahku bekerja enggan melepas kepergiannya. Namun dengan niat ingin dekat dengan keluarga terutama anak dan istrinya beliau pun meninggalkan pekerjaannya yg sudah iya geluti selama bertahun2. Sungguh keputusan yg sangat berat. Beliau hijrah dengan niatan ibadah bahwa rejeki selalu ada asal kita tetap berusaha. Dari sanalah aku percaya bahwa rejeki itu tidak akan tertukar. Selama niat kita tulus ingin beribadah kepada Allah SWT. Alhasil ayahku balek pulang ke kampung halamannya di kota pematangsiantar dan membangun usaha di sana. Dia membeli beberapa hektar ladang sawit dan kala itu usahanya adalah sebagai distributor ikan ambil dari kota sibolga dan menyebarkannya di sekitaran kota Medan terutama pajak2 di kota medan dan kota siantar. Mulai dari 1 truck sampai pada akhirnya bisa punya 3 truck. Aku dan bella sempat ikut papa ke siantar kala itu aku duduk di kelas 4 SD dan bella naik ke kelas 3 SD. Kami bersekolah di sekolah swasta SD taman asuhan pematangsiantar. Waktu kami di medan sekolahnya di sekolah al-azhar Medan di daerah simalingkar. Hingga sampai aku tamat SD, setiap weekend nya kami selalu pulang ke Medan untuk bertemu dengan mama. Walau jarak memisahkan kami ya mungkin memang pada saat itu, ini lah jalan yg harus kami hadapi. Walau terpisah kota kami tetap berusaha untuk tetap dekat. Kehidupan terus berlanjut, masalah datang silih berganti hingga pada suatu malam ayah bercerita ia bermimpi bahwa akan ada lahir adik kami perempuan. Dan beliau pun memutuskan untuk punya anak lagi, dan memang terpaut 10 tahun usiaku dengan adikku yg no 3,hingga pada tanggal 28 Agustus 2001 di medan lahir lah adikku yg ke 3 yaitu chantika saragih. Kala itu hubungan keluarga kami sempat harmonis kembali karena adanya kedatangan adik baru dalam keluarga kami. Hingga pada saat dia lahir ibu mendapatkan cuti melahirkan hingga papa mengajak mama untuk liburan di siantar selama dia cuti. Tidak berlangsung lama selama mama di siantar aku merasa hubungan keluarga kami harmonis lagi. Dan itu tidak berlangsung lama karena memang orangtuaku yg tidak terlalu jauh terpaut usianya antar ibu dan ayahku sering kali mereka bertengkar dengan terkadang dengan alasan yg tidak jelas. Hingga beberapa tahun kemudian aku juga gk terlalu ingat, ayahku sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dan ibu bersih keras ingin berpisah dengan ayahku. Alhasil mereka pun berpisah. Sempat di nikahkan kembali oleh abg dari ayahku, namun apa ada daya. Takdir berkehendak lain. Kala itu ayahku hancur. Karena rumah tangganya berantakan hingga berdampak pada usahanya. Yg tadinya usahanya berjalan lancar karena keharmonisan rumah tangga. Pelan2 bisa bangkrut. Dari peristiwa ini aku juga belajar bahwa hubungan harmonis silaturahmi juga bisa mempengaruhi rejeki kita. Kuncinya adalah tetap menjaga sholah dan ibadah kita. Setelah mengalami penurunan omset di bisnisnya ayahku pun hampir sempat berputus asa. Dia memutuskan untuk kembali hijrah ke Jakarta, tahunnya aku lupa dengan menitipkan kami ke pada nenek dari papa untuk tetap tinggal di siantar dan adikku chantika stay dengan mama karena dia masih di bawah umur. Sementara kami harus tetap di siantar karena hak asuh kami jatuh ke tangan papa sebagai kepala keluarga. Singkat cerita ayahku pun berhasil mendapatkan pekerjaannya dsna walau sempat jatuh bangun lagi karena memang jakarta sudah berubah tidak seperti dulu pada tahun 2009 ayahku memutuskan balik lgi ke kampung halamannya di kota siantar, dan kala itu papa juga sudah punya istri lagi ya demi menyambung hidupnya. Kami juga ber3 tidak di beritahu. Karena masih terlalu kecil pada saat itu hanya keluarga ayahku saja yg di beri tahu. Balik ke siantar dengan mengumpulkan tabungannya yg sudah ia kumpulkan untuk balik ke kampung halaman ia bangun rumah seadanya dengan warisan yg ayahku dapat dari alm. Bapaknya atau kakekku. Alhamdulillah nya ayahku masih mendapatkan warisan peninggalan dari ayahnya dan di tanah warisan tersebutlah ia bangun rumah kami. Kala itu aku sudah duduk di bangku SMA kelas 3 yg sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir nasional. Kala itu kehidupan sebagai seorang anak yg bisa di bilang broken home tidaklah terlalu mulus, kalau di bilang ya gk bandul kali juga gk sampek narkoba dan segala macamnya karena memang gk mampu juga, ekonomi keluargaku juga sedang tidak baik2 juga. Ferdo SMP dan SMA juga pribadi yg tidak terlalu populer biasa saja. Oh ya setelah tamat SD. Aku sempat pindah ke Medan 1 tahun karena kala itu ayahku tidak di siantar jadi sekolahku gk da yg urusin. Alhasil aku di daftarkan ibuku sekolah di mts al-ulum Medan. Kehidupanku di Medan ya bisa di bilang lumayan bandel lah ya, aku sekolah masuk siang jam 1, dan ibuku juga sibuk bekerja. Jadi bisa di bilang tidak terlalu di kontrol juga. Dan sempat bergaul dengan orang yg kurang baik. Akhirnya kelas 1 aku mulai menjadi perokok. Yg awalnya coba, terpangruh lingkungan juga. Hingga pada ketika aku mau naik kelas 2 SMP aku terpaksa di pindahkan balek ke siantar karena ibuku tidak sanggup mengurusi aku, di karenakan aku bandel. Sampai aku tamat SMA aku di siantar. Jadi anak yg lebih paham kampung halamannya dari pada di kota medan bersama dengan ibuku. Kala itu anak seusiaku hidup dengan nuansa anak band. Dimana di ibukota banyak bermunculan bantu pendatang baru dengan hits lagu mereka masing2, kala itu dunia industripermusikann tanah air lagi naik daun. Jadi aku dan teman2ku memutuskan untuk membentuk grub band musik kami. Kelas 1 SMA aku bentuk band dengan teman2 satu angkatan ku, sempat berganti2 personel akhirnya aku memutuskan untuk hengkang karena berbeda pandangan dan visi. Hingga aku kelas 3 SMP aku bentuk sendiri band yg aku suka sampai akhirnya aku bertemu dengan adik kelasku bernama irfan purba. Kalah itu dia kelas 1 SMA, sedang aku kelas 3 SMA. Sempat mengaudisi beberapa personel dan sempat latihan bareng di studio kami tidak kunjung menemukan aura kami di band. Sempat berputus asa ingin mencari aktivitas baru selain di musik. Akhirnya irfan bersuara bahwa sebenernya dia punya band lain bersama teman2 di rumahnya. Hingga aku di ajak ke rumahnya dan aku pun berkenalan dengan mereka. Yaitu abay dan jacky. Abay itu adik kelasku juga di smansa, dia kelas 2 SMA, anak ips sedang jacky adalah anak dari sekolah swasta lain yaitu taman Siswa sekolah menengah kejurusan automotif. Berkenalan lah kami yg memang pada saat itu vokalis mereka cewek yang baru mereka rekrut di band kurang menyatu dengan band. Alhasil aku di dapuk sebagai pengganti sementara vokalis mereka di band.
Komentar
Posting Komentar